Sabtu, 31 Desember 2016

[Resensi Buku : Tentang Kamu] Pelajaran Hidup dari Jelajah Tiga Negara Dua Kota



Judul Buku      : Tentang Kamu
Pengarang       : Tere Liye
Editor              : Triana Rahmawati
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Kedua, Oktober 2016
Dimensi           : vi+ 524 hal : 13.5x20.5
ISBN               : 978-602-0822-34-1

Sinopsis Tentang Kamu - Tere Liye


Cerita ini bermula dari seorang mahasiswa asal Universitas Oxford bernama Zaman Zulkarnaen. Yang tiba-tiba mendapatkan panggilan dari seorang senior lawyer firma hukum Thomas & co untuk menyelesaikan perihal surat keterangan yang dikirim oleh pihak ketiga, salahsatu klien mereka yang telah meninggal di panti jompo di Paris.

Dalam surat keterangan tersebut disebutkan bahwa kliennya yang bernama lengkap Sri Ningsih, seorang perempuan asli Jawa adalah pemilik sah atas saham sebesar 1% sebuah perusahaan besar. Namun demikian, dalam surat tersebut tidak dicantumkan ahli waris penerimanya. Hal itulah yang membuat Sir Thomson menugasi Zaman Zulkarnaen dalam menelusuri kehidupan masa lalu Sri Ningsiih dengan mencari ahli warisnya yang mungkin masih hidup.

Zaman pun melakukan investigasi mulai dari panti jompo di Paris, kemudian terbang ke Pulau Bungin (Sumbawa), Kota Surakarta, Kota Jakarta, hingga ke London lagi. Ada banyak kisah yang dialami Sri Ningsih yang merupakan putri seorang nelayan tangguh Pulau Bungin. Menjadi yatim piatu di usianya yang ke-9, menjadi bulanan ibu tirinya, hingga Sri dan Tilamuta –adik tirinya– bisa pergi sampai ke Madrasah Kiai Ma’shum di Surakarta.

Pengalaman Sri mendapatkan sahabat terbaik, ilmu agama, pengkhiatan yang dilakukan oleh sahabat terbaik pun dialaminya selama di sana. Selanjutnya, Sri beranjak ke Jakarta untuk tidak terpuruk dengan masa lalu yang dialaminya. Di kota metropolitan, dia sukses menjadi seorang pengusaha, walaupun harus tertatih-tatih terlebih dahulu dengan berbagai ujian kehidupan.

Hingga tiba-tiba Sri Ningsih memutuskan ke London, dia masih terbayang-bayang akan masa lalu yang mengikutinya. Di sana, dia bertemu dengan keluarga angkatnya, juga bertemu kekasih hati tercintanya.

Namun kemudian, Sri Ningsih melarikan diri ke panti jompo yang ada di Paris, dan meninggal di sana. Diujung investigasi Zaman mengenai siapa ahli waris dari saham 1% milik Sri Ningsih, salahsatu bagian dari masalalu Sri Ningsih tiba-tiba datang dengan tujuan ingin mendapat bagian dari warisan itu. Tapi bukan Zaman namanya, karena dia akan tetap memperjuangkan hidup dan matinya demi menegakkan surat wasiat yang telah dibuat oleh Sri Ningsih.

-0-

[Resensi Buku : Tentang Kamu] Pelajaran Hidup dari Jelajah Tiga Negara Dua Kota



Saat kita telah berhasil melupakan sesuatu,

bukan berarti itu benar-benar telah lupa begitu saja, boleh jadi masih ada yang mengingatnya.  – hal 340


Masalalu. Sebuah masa yang pernah ada dan dialami seseorang, yang kadang sulit untuk dilupakan, sekalipun sudah berdamai dengan keadaan di masa lampau itu. Berusaha mengenyahkan pun, meski ujung-ujungnya tetap akan mengingat dengan jelas kejadian tersebut. Tergantung bagaimana diri sendiri dalam menyikapinya. Ingin membiarkannya mengalir seperti air, ataupun dengan memeluknya.

Novel yang mengkisahkan tentang perjalanan Zaman Zulkarnaen dalam menguak sisi kehidupan Sri Ningsih selama hidupnya ini mengandung sebuah ibrah akan kesabaran, ketulusan, keikhlasan, dan cara memeluk rasa sakit di masalalu yang dialami oleh tokoh utama yakni Sri Ningsih yang dikemas dengan amat apik oleh pengarang ini.

Seorang wanita berumur 70 tahun meninggal di sebuah panti jompo dekat menara Eifel, Paris dengan meninggalkan sebuah surat keterangan yang dikirim oleh pihak ketiga pada sebuah firma hukum bernama Thomas & co. Dalam keterangan tersebut dijelaskan bahwasanya wanita tua itu adalah pemilih sah atas 1% saham di perusahaan besar.

Zaman Zulkarnaen, salah seorang junior associate yang pernah magang selama setahun di firma hukum tersebut tidak menyangka jika dia terpilih untuk menyelesaikan surat keterangan dari pihak ketiga wanita tua itu, juga mencari siapakah ahli waris atas saham sah 1% milik wanita yang dikenali namanya sebagai Sri Ningsih, salah seorang perempuan Jawa tulen asal Indonesia.


“Harta itu bisa memicu pertikaian, bahkan dalam kasus serius, peperangan skala kecil,” – hal. 20


Berkat bantuan dari petugas panti jompo – Aimée – yang memberikan sebuah buku diary kecil yang telah diamanahkan Sri Ningsih sebelum dia meninggal. Zaman pun akhirnya mulai menelusuri perjalanan hidup almarhum Sri Ningsih sehingga dia bisa sampai ke Paris, dan memiliki warisan yang jumlahnya bisa mengalahkan kekayaan Ratu Inggris.

Lewat lima juz dalam buku diary kecil itu, Zaman mengarungi perjalanan melalui Tiga Negara (Paris, London, Indonesia(Sumbawa- Pulau Bungin)) dan dua kota (Surakarta, Jakarta) dengan pelajaran hidup yang berbeda-beda.

Ketika melakukan perjalanan ke Pulau Bungin, Zaman menemui saksi hidup semasa kecil Sri Ningsih yakni Pak Tua yang bernama asli Ode. Sri Ningsih adalah putri nelayan tangguh bernama Nugroho dan Rahayu. Tapi sayangnya, Rahayu – ibunya – meninggal saat setelah melahirkan Sri. Sedangkan ayahnya, meninggalkannya bersama ibu tirinya – Nusi Marutta – dan adik tirinya – Tilamutta – saat Sri Ningsih berumur 9 tahun.


“Selama bapak pergi, hormati dan patuhi ibumu. Lakukan apa yang dia suruh tanpa bertanya. Turuti apa yang dia perintahkan tanpa membantah. Jangan mudah menangis, jangan suka mengeluh. Kamu adalah anak seorang pelaut tangguh. Bersabarlah dalam setiap perkara. – hal 95


Sepeninggal ayahnya, Sri Ningsih menjadi bulan-bulanan ibu tirinya. Namun, dia tidak berani untuk membantah setiap apa perkara yang diminta atau diperintah oleh Nusi Marutta.

Dari Pulau Bungin, Zaman melanjutkan perjalanannya ke Surakarta yakni ke tempat Madrasah Kiai Ma’shum yang saat itu telah diteruskan oleh Kiai Wahid, salah seorang putra dari Nur’aini – sahabat terbaik Sri Ningsih. Selama berada di tempat Kiai Ma’shum bersama Tilamuta – adik tirinya, Sri Ningsih juga memiliki sahabat lain bernama Sulastri. Persahabatan tiga perempuan tersebut amat kuat. Tapi sayangnya, ada kebencian, kedengkian, juga kecemburuan yang membuat retak hubungan ketiga sahabat tersebut. Hingga akhirnya terjadi sebuah tragedi yang amat membuat Sri Ningsih begitu trauma dengan masalalunya tersebut.


“Aku ingin sekali punya hati sebaikmu, Sri. Tidak pernah punya prasangka buruk walau sebesar debu,” – hal 179



Hari itu, di tahun 1965. Rasa dengki telah menjadi kebencian luar biasa, yang bahkan bisa membuat pelakukannya membabi buta – hal 191


Perjalanan Zaman pun dilanjutkan kembali ke kota Jakarta. Melalui beberapa lembar surat yang diberi Nur’aini sebagai petunjuk tempat terakhir keberadaan Sri Ningsih, akhirnya Zaman bisa bertemu saksi hidup Sri Ningsih selama dia berada di Jakarta. Cathy namanya.

Di Jakarta, Sri Ningsih belajar untuk bertahan hidup, membangun usahanya dari nol, walaupun ada banyak rintangan yang dialaminya hingga dia harus jatuh bangun dan tertatih-tatih untuk sebuah keberhasilan itu. Tapi sayangnya, semangat pantang menyerah, etos kerja, serta tidak pernah putus asa dalam setiap kegagalan, membawanya menemukan titik kesuksesan yang dia harapkan.

Aku tahu sekarang, pertanyaan terpenting bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x – hal 210

Selama 12 tahun berada di Jakarta, Sri Ningsih tiba-tiba menghilang begitu saja, padahal  usahanya sedang berada di puncaknya. Kemudian, Zaman pun melanjutkan investigasinya dengan kembali ke London berdasarkan juz berikutnya yang mana berkisah tentang cinta yang dialami Sri Ningsih.


Aku tidak akan menangis karena sesuatu itu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian – hal 286



Di London, Sri Ningsih bertemu dengan kekasih hatinya yakni Hakan, juga menemukan keluarga angkatnya seperti Aami, Aabu, Amrita dan lainnya yang memberikan dia kehangatan akan sebuah keluarga. Namun, selama 19 tahun berada di London, lagi-lagi Sri Ningsih kembali menghilang dan kabur ke Paris, yang tak lain tujuannya adalah panti jompo dekat dengan menara Eifel.

Begitu petunjuk mengenai ahli waris dari surat wasiat yang dibuat oleh Sri Ningsih amat sangat dekat dan jelas, seseorang bernama Ningrum yang mengaku sebagai mertua dari Tilamuta, yang telah menikah dengan putrinya yang bernama Murni datang kehadapan Zaman.  

Lantas Zaman amat tak percaya perihal ucapan Ningrum tersebut. Bukankah Tilamuta telah meninggal saat tragedi yang terjadi di Madrasah Kiai Ma’shum? Tapi, kenapa ada perempuan yang mengatakan jika Tilamuta masih hidup dan telah menikah? Akankah pernyataan Ningrum itu benar, kemudian, seperti bagaimanakah sikap Zaman dalam mengatasi kondisi yang demikian?

Temukan kelanjutan kisah Sri Ningsih lebih lengkapnya dalam novel Tentang Kamu ini.

-0-

Pengarang yang mana karyanya tidak pernah mangkir dari rak Best Seller ini kembali menelurkan sebuah karyanya lagi dengan tema dan jalan cerita yang lebih baru lagi. Kepiawaian Tere Liye dalam menyampaikan cerita di novelnya ini amat berkesan, tentunya dengan tema yang belum pernah diusung sebelumnya oleh pengarang lainnya.

Selain itu, saya berpikir kepandaiannya dalam melakukan riset untuk sebuah karya tulisnya ini begitu ciamik. Seperti mengenai hukum warisan, antara perusahaan dan tentang saham, yang disajikan dengan amat apik oleh Tere Liye. Pantas saja jika akhirnya pengarang yang amat produktif ini mendapatkan penghargaan dari Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI). Karena sudah tidak diragukan lagi kelihaian dari seorang akuntan ini dalam mengolah kata, tema, sehingga tercipta sebuah karya tulis yang indah sepanjang cerita.

Selanjutnya, saya akan sebutkan terlebih dahulu beberapa kejanggalan yang saya temukan saat membaca Novel Tentang Kamu ini.

Pertama,  pada halaman 107 dijelaskan jika usia Sri Ningsih 14 tahun, kemudian pada halaman 124,  juga disebutkan bahwasanya usia Sri Ningsiih adalah 15 tahun, sedangkan di halaman 129 tertulis jika dia berusia 14 tahun, masih juga di halaman 133 disebutkan jika Usia sri Ningsih 14 tahun. Padahal kejadian itu terjadi dalam waktu yang sama, tapi kenapa selisih usia Sri Ningsih berbeda. Sehingga terasa janggal.

“.... Menyisakan gadis kecil yang sekarang sudah berusia empat belas tahun,” – hal. 107

“Gadis usia lima belas tahun itu  tampak mengenaskan. Tubuhnya lemah, bibirnya pucat, bicaranya antara terdengar atau tidak.” – hal. 124

“... gadis usia empat belas tahun itu duduk di samping pusara ibunya. Pemakaman kampung seberang” – hal 129

“Gadis usia empat belas tahun itu tidak perlu berpikir dua kali, seperti banteng terluka dia lari menuju anak tangga.” – hal 133

Kedua, kejanggalan dengan penyebutan tokoh Zaman menjadi Eric pada halaman 207. Padahal jika diurutkan dari percakapannya, seharusnya yang menyatakan kalimat tersebut diucapkan Eric kepada Zaman, bukan sebaliknya.

“Iya, tambahkan satu lagi, Eric....” – Zaman
“SPV? Ini bukan penyelidikan pajak, Eric.”

Ketiga, kejanggalan mengenai apakah Sri berhijab. Saya rasa, kejanggalan ini sudah saya temukan setelah saat Sri Ningsih berada di Jakarta (lihat hal. 127) yang mengenakan baju pendek saat pembangunan Monas. Namun demikian, tidak ada penjelasan langsung yang berkaitan dengan Sri Ningsih memakai hijab atau tidak. Karena, sebelumnya Sri juga pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Kiai Ma’shum dan juga pernah mengabdi menjadi seorang guru di sana.

Mungkin hanya itulah sedikit kejanggalan yang penuh tanda tanya bagi saya. Namun demikian, masih ada beberapa hal lain, hal-hal pokok yang tentunya amat sangat saya apresiasi dengan ide cerita yang dibawakan oleh Tere Liye ini. Salahsatu keunggulan yang menjadi poin menariknya ini merupakan bagian dari unsur intrinsik dari novel Tentang Kamu ini, adalah sebagai berikut:

Pertama : Tema

Dalam novel ini memiliki tema berdasarkan lima juz dari diary kecil milik Sri Ningsih sendiri. Diantaranya adalah; kesabaran, persahabatan, keteguhan hati, cinta, dan tentang memeluk semua rasa sakit. Namun demikian, keseluruhan novel ini memiliki satu tema besar yang mengarah dalam hal “memeluk rasa sakit”.

Awalnya saya menduga novel ini adalah sebuah novel cinta, karena terpikat dengan judulnya “Tentang Kamu”. Namun ternyata tentang kamu merupakan salahsatu tema dalam novel  Tere ini.

Kedua : Latar cerita atau setting

Pada latar tempat dalam novel ini amatlah kuat dengan dijelaskan secara konkret oleh Tere Liye. Sehingga saat tokoh beradi di tempat-tempat seperti di Pulau Bungin, Surakarta, Jakarta, London, Paris. Pembaca bisa lebih mudah mengetahuinya. Selain itu juga, Tere juga masih menyisipka beberapa latar tempat yang “netral” yang tak bernama. Sehingga pembaca digiring untuk mempersepsikan dimanakah letak tempat cerita itu berlangsung.

Hal itulah yang membuat saya kagum dengan Tere Liye yang pintar dalam mengolah penyebutan latar tempat.

Ketiga : Karakter

Dalam Novel Tere Liye Tentang Kamu ini, dia menggabungkan dua jenis karakter untuk penokohannya. Baik itu karakter yang sudah dijelaskan secara langsung oleh pengarang, serta karakter tokoh yang mana bisa dipahami oleh pembaca melalui penjelasan secara tidak langsung yang digambarkan melalui aktifitas, percakapan, tindakan, maupun pikiran sang tokoh dalam setiap peristiwa. Sehingga, pembaca lebih mudah dalam menafsirkan karakter tiap tokoh.

Sudah menjadi ciri khas Tere yang menyertakan latar belakang tokoh baik itu utama ataupun pendukung. Yang sama-sama punya andil besar dalam berjalannya seluruh cerita. Seperti halnya tokoh pembantu seperti La Golo yang apabila dihilangkan begitu saja, pasti akan terasa hambar dengan tidak ada celetukan konyol yang bersumber darinya saat Zaman berada di Pulau Bungin yang mewawancarai Pak Ode. Selain itu, ada tokoh Rajendra Khan, meski menjadi tokoh pembantu, pembantu amat bisa menafsikan seperti apakah karakternya yang suka usil, dan jahil itu. Masih ada juga karakter pendukung lainnya seperti Kang Sueb, Deschamps, Pak Anwar, Lucy, Eddy, Amrita, Sir Thomson yang sibuk dengan urusan bersama cucunya, Eric, Encik Razak, kehebohan Maximillen, Beatrice dan masih banyak lagi tentunya.

Selain itu, masih ada karaker tokoh yang dihadirkan langsung oleh Tere untuk mengungkap perjalanan Sri Ningsih selama di Madrasah Kiai Ma’shum, seperti Nur’aini yang tak pernah terpikirkan akan hadir di tengah-tengah Zaman dan juga Kiai Wahid. Masih ada juga tokoh yang tiba-tiba hadir seperti Hans Zulkarnaen, yang merupakan kakak tiri Zaman.

Selanjutnya, tidak ada kata bosan membicarakan tokoh utama seperti Sri Ningsih, dengan ketabahan, kebesaran hatinya, yang mampu membuat saya menitikkan air mata. Tak sanggup rasanya jika menjadi Sri Ningsih yang pernah mendapatkan predikat sebagai seorang “Anak yang dikutuk”. Apalagi tentang bagaimana dia memeluk rasa sakit, serta masa lalu yang dialaminya, pastilah bisa menjadi pemicu pembaca untuk dapat memetik pelajaran atas sikap sosoknya yang sudah ditakdirkan meninggal oleh Tere Liye.

Selain itu, saya juga amat kagum dengan sosok seorang Zaman Zulkarnaen yang mana dia amat pandai dalam mengolah hipotesa. Serta amat kesal dan membenci dengan karakter yang diciptakan Tere pada diri Musoh dan Sulastri.

Keempat : Plot

Jalan cerita yang amat saya sukai dalam novel Tere ini adalah dengan menggunakan plot berjenis Alur Maju Mundur yang konsisten sepanjang cerita. Sehingga bisa terlihat berpadu padan dalam keterkaitan antara latar, konflik, klimaks, peristiwa, serta karakter para tokoh yang saling terjaga erat.

Kelima : Poin Of View

Sudut pandang yang dipakai Tere dalam novel ini menggunakan kata ganti orang ketiga, sehingga sangat memudahkan pembaca dalam mencermati lajunya cerita.

Keenam : Cover

Nah, saya amat suka dengan desain minimalis yang sederhana pada objek sepatu yang lusuh untuk cover novel tentang kamu ini. Sebagai gambaran, menurut saya, objek sepatu ini mendandakan sebagai sebuah perjalanan yang dilalui Sri Ningsih sehingga dia mampu berkeliling dunia, hingga ia sampai ke beberapa negara seperti London, Paris, Mesir, India, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga menebak jika sepatu itu menggambarkan akan sebuah petuah yang akhirnya diucapkan oleh ayah Sri Ningsih yaitu Nugroho sebelum dia pergi ke Surabaya untuk bisnis serta membelikan sebuah sepatu sebagai hadiah ulang tahun Sri. Tapi sayangnya, dari hadiah yang akan ayahnya berikan tersebut, membuat Sri mendapatkan julukan “Anak yang dikutuk” oleh Ibu Tirinya.

Selain itu, saya juga suka dengan pilihan warna cover yang merupakan kombinasi dari oranye, coklat, dan sepertinya putih, yang tentunya bakalan membuat penasaran para pembaca. Hehehehe....

Ketujuh: Amanat atau Hikmah

Salahsatu kekaguman saya dalam novel-novel Tere Liye adalah melalui ibrah, atau hikmah yang bisa dibawa pembaca setelah membaca novelnya. Apalagi dalam novel Tentang Kamu ini, bertebaran aneka hikmah yang bisa diambil. Seperti berusaha bangkit dari keterpurukan, berdamai dengan masalalu, memeluk rasa sakit, berusaha semaksimal mungkin untuk sebuah kesuksesan, jangan mudah menyerah, betapa pentingnya akan pendidikan dan beberapa hikmah lainnya.


‘… jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu.

Jadilah seperti air yang mengalir sabar.

Jangan pernah takut memulai hal baru…” – hal 278


Selain itu, ada juga ilmu yang bisa diambil dan menjadi pelajaran setelah membaca Novel ini. Seperti adanya, hari Rememberance Day yang ada di Kota London, terjadinya sistem penanda komputer yang terkenal dengan Y2K atau millenium Bug pada tahun 2000, meletusnya tragedi Malari – Malapetakan 15 Januari, dan juga tragedi adanya pembantaian yang dilakukan kelompok PKI (Partai Komunis Indonesia).

Masih ada juga beberapa sindiran halus Tere tentang adanya kekerasan pada anak, tehnik bekerja dan ingin memekerjakan. Yaitu seperti yang dicontohkan Sri Ningsih yang mana trauma dengan kejadian bisnis travel yang dialaminya, akhirnya memutuskan kembali untuk memulai dari nol dengan menjadi seorang karyawan. Selanjutnya, setelah ada waktu yang pas, dia keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, dan membuat sebuah rintisan perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama dengan perusahaan tempat bekerja sebelumya yakni produk toiletris namun dengan gubahan kekreatifitasan Sri Ningsih sendiri. Hingga akhirnya dia mampu mempekerjakan banyak karyawan di perusahaan miliknya tersebut.

Sindiran halus juga terjadi masalah pembagian warisan, mengenai kehidupan modern dengan adanya gadget, tentang perempuan usia dua puluh lima tahun yang belum menikah, dan beberapa sindiran lainnya.

Seperti yang terangkum dalam rangkaian kalimat di bawah ini. 


“Harta itu bisa memicu pertikaian, bahkan dalam kasus serius, peperangan skala kecil,” – hal. 20



 “Masalah harta waris tanpa klaim ini seperti gunung es, hanya atasnya saja yang terlihat, di bawahnya tersembunyi. Itu melibatkan uang yang tidak sedikit, dan mengundang banyak lalat mendekat,” – hal 21



“Ah, istri-istri zaman sekarang, mereka kadang lebih sibuk dibanding suaminya,” – hal 29



“Ada banyak hal-hal hebat yang tampil sederhana. Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya,” – hal 257


 Tapi, dari keunggulan-keunggulan tersebut, saya menemukan satu typo, yah... satu typo untuk tulisan dengan lembar 524 ini bisa dikatakan amatlah sempurna untuk typonya. Seperti dalam kalimat di bawah ini.

“Ayo, apa susanya menelepon, tanyakan lewat sekretarisnya.” – hal 267

Yah, hanya kurang huruf “h” aja kog. Sehingga Novel ini amatlah sangat recomended sekali untuk dibaca bagi teman-teman semua.

Ending yang dikemas sedemikian rupa sebenarnya bisa ditebak dari pertengahan cerita, namun sayangnya Tere Liye menyuguhkan hal-hal yang diluar dugaan saya begitu bagian  ending itu berlangsung. Sebuah hipotesa yang membuat saya melongo dan berdecak kagum dengan sosok bernama Zaman dalam mengungkapkan hal-hal yang tak pernah diduga sebelumnya.

Lepas daripada itu, Novel ini begitu banyak mengajarkan dengan arti kehidupan dengan sosok Sri Ningsih yang melakukan perjalanan mengelilingi dunia yang amat menginspirasi untuk selalu bersabar, tabah, dan ikhlas dalam menghadapi ujian apapun, bangkit disaat terpuruk, menjaga baik hubungan persahabatan yang telah terjalin, berdamai dengan masalalu dengan cara memeluknya, serta menjaga hati yang telah dijaga sebaik mungkin.


“Ada cara terbaik untuk menerima takdir kejam itu, dengan memeluknya. Seperti yang kamu lakukan,” – hal 136



Kadangkala ada banyak masalalu yang tidak ingin ditengok kembali. Tapi dalam kehidupan, masa sekarang dan masa depan jauh lebih penting, karena masa lalu, sehebat apapun itu telah tertinggal di belakang. – hal 377



Khoirur Rohmah, 31 Desember 2016



34 komentar:

  1. wow amazing, lengkap isi resensinya. cieeee good job. pnasaran sama novelnya.. pinjem dooong 😝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kaish banyak, mas. hhee
      Testimoni kedua bikin resensi. hhheee
      Iyaa, boleh2 pinjem kok. wkwkwk

      Hapus
  2. baca ini, jadi berasa udah baca buiunya. trims ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilllah...
      lebih-lebih baca bukunya langsung mbak Milda. ada banyak kejutan loh di dalamnya hhee

      Hapus
  3. Betul..harta bisa memicu.pertikaian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget mbak....
      klo bahas masalah harta, banyak lalat yang mendekat hhee

      Hapus
  4. wah saya baca ceritanya kopi lima gelas habis tidak terasa,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih... saking asyiknya atau gima nih, pak.. hhhee
      Selamat menikmati resensinya ya Pak... :D

      Hapus
  5. Balasan
    1. Terima kasiihh, Mbak Zie... hhehee

      Hapus
  6. kreeeen lengkap bangeet resensinya..saya udah punya bukunya tapi belum baca..hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kaish banyak Mbak Lingga...
      Hayuk baca segera eksekusi mbak. Ada banyak puzzle2 smaa kejutan2 di novelnya loh hhee

      Hapus
  7. Resensinya lengkap banget, keren Rohmah. Buku-buku Tere Liye, memang selalu inspiring. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima ksih bnyak Mbak Ratna...
      Punyae smean juga keren loh resensinyaa hhee
      Banget inspiringnya mbak hhee

      Hapus
  8. mendetail sangat resensi dari buku ini, cukup melelahkan jadinya membacanya, tapi dengan begtu hari ini saya berencana mencari buku tersebut diatas, moga nemu yeah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya robbal alamin...
      Smoga segera ketemu buku "Tentang Kamu" ini ya Pak.
      Bisa juga via online sama offline kok utk daptinnyaa hhhee :D

      Hapus
  9. Waaa baca resensinya jadi bikin penasaran mba.. apalagi ada lompatan setting waktu dan lokasinyam sepertinya bakal penuh dengan nuansa baru ya. Hmmmm bisa masuk waiting list ini bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. HHe... iya mbak. Dan penuturannya amat detail. Seakan2 kita ikutan melompat dri satu tempat ke tempat lain, hehehee
      Monggo Mbak Ira, smoga bisa dieksekusi ya.. hheee

      Hapus
  10. Baru aja selesai baca buku ini. Aku jg awalnya ngira ini novel roman cinta2an gitu ternyata salah tapi aku tetep sukaaaakkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wehh... samaan berarti Mbak Muna...
      Stuju.. aku juga sukak sama Novel ini mbak :D

      Hapus
  11. Sepertinya menarik nih, jadi pengen baca karya Tere Liye yang ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhee.. Banget Mbak Nia...
      Monggo hunting Novel Tentang Kamu nya :D

      Hapus
  12. waduh sudah dikasih spoiler duluan sama rohma, ini bukunya ada di rumah, tapi lagi dibaca pak suami dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Evrina wajib baca novel ini -duh.. maksa_ huehehe...
      Bair tambah penasaran hhe
      Asli, bagus ini cerita Novelnya mbak...
      Smoga stlah Pak suami baca, Mbak evrina juga bisa ikutan nyimak kisahnya Sri Ningsih ya mbak. hhee

      Hapus
  13. Aku uda beli online hahaha ga sabar pengenn baca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih... hayuk dibaca mbak...
      Banyak kejutan di dalamnya loh hheee

      Hapus
  14. Aih, jadi pengen baca gara2 liat review ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihh... Hayuk borong buku Tentang Kamunya, mbak...
      Bakalan bikin baper pas cerita ttg kisah Sri dan Hakan loh.. hhee

      Hapus
  15. Lengkap detilnya bahkan kamu pun ngeh soal usia tokoh, mungkin itu salah ketik soal usia hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. huehheee... Iya, Koh...
      Sepertinya salah ketik aja deh hheee

      Hapus
  16. Halo mba. Asyik nih kalau ada buku yang bisa menjabarkan seolah-olah kita berada di tempat itu :)

    BalasHapus
  17. Lengkapppppp....
    Saya juga sudah baca mbak, dan juga barusan posting tentang Tere Liye, tapi tidak sedetail ini :')

    Suka banget sama buku satu ini, jalan ceritanya khas Tere Liye banget ya mbak...
    Yuk mbak mampir ke blog saya :)

    BalasHapus
  18. Ini buku jadi bikin berecamuk yaaa, tetang perjuangan dan warisan

    BalasHapus
  19. review yang lengkap rohma, dan dalem sekali, banyak kalimat inspiratif

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya...
^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...