Judul
Buku : Tentang Kamu
Pengarang : Tere Liye
Editor
: Triana Rahmawati
Penerbit : Republika
Cetakan : Kedua, Oktober 2016
Dimensi : vi+ 524 hal : 13.5x20.5
ISBN : 978-602-0822-34-1
Sinopsis Tentang Kamu - Tere Liye
Cerita
ini bermula dari seorang mahasiswa asal Universitas Oxford bernama Zaman
Zulkarnaen. Yang tiba-tiba mendapatkan panggilan dari seorang senior lawyer firma
hukum Thomas & co untuk menyelesaikan perihal surat keterangan yang dikirim
oleh pihak ketiga, salahsatu klien mereka yang telah meninggal di panti jompo di
Paris.
Dalam
surat keterangan tersebut disebutkan bahwa kliennya yang bernama lengkap Sri
Ningsih, seorang perempuan asli Jawa adalah pemilik sah atas saham sebesar 1%
sebuah perusahaan besar. Namun demikian, dalam surat tersebut tidak dicantumkan ahli waris penerimanya. Hal itulah yang membuat Sir Thomson menugasi Zaman
Zulkarnaen dalam menelusuri kehidupan masa lalu Sri Ningsiih dengan mencari
ahli warisnya yang mungkin masih hidup.
Zaman
pun melakukan investigasi mulai dari panti jompo di Paris, kemudian terbang ke
Pulau Bungin (Sumbawa), Kota Surakarta, Kota Jakarta, hingga ke London lagi.
Ada banyak kisah yang dialami Sri Ningsih yang merupakan putri seorang nelayan
tangguh Pulau Bungin. Menjadi yatim piatu di usianya yang ke-9, menjadi bulanan
ibu tirinya, hingga Sri dan Tilamuta –adik tirinya– bisa pergi sampai ke
Madrasah Kiai Ma’shum di Surakarta.
Pengalaman
Sri mendapatkan sahabat terbaik, ilmu agama, pengkhiatan yang dilakukan oleh
sahabat terbaik pun dialaminya selama di sana. Selanjutnya, Sri beranjak ke
Jakarta untuk tidak terpuruk dengan masa lalu yang dialaminya. Di kota
metropolitan, dia sukses menjadi seorang pengusaha, walaupun harus
tertatih-tatih terlebih dahulu dengan berbagai ujian kehidupan.
Hingga
tiba-tiba Sri Ningsih memutuskan ke London, dia masih terbayang-bayang akan
masa lalu yang mengikutinya. Di sana, dia bertemu dengan keluarga angkatnya,
juga bertemu kekasih hati tercintanya.
Namun
kemudian, Sri Ningsih melarikan diri ke panti jompo yang ada di Paris, dan
meninggal di sana. Diujung investigasi Zaman mengenai siapa ahli waris dari
saham 1% milik Sri Ningsih, salahsatu bagian dari masalalu Sri Ningsih
tiba-tiba datang dengan tujuan ingin mendapat bagian dari warisan itu. Tapi
bukan Zaman namanya, karena dia akan tetap memperjuangkan hidup dan matinya
demi menegakkan surat wasiat yang telah dibuat oleh Sri Ningsih.
-0-
[Resensi Buku : Tentang Kamu] Pelajaran Hidup dari Jelajah Tiga Negara Dua Kota
Saat kita telah berhasil melupakan sesuatu,
bukan berarti itu benar-benar telah lupa begitu saja, boleh jadi masih ada yang mengingatnya. – hal 340
Masalalu.
Sebuah masa yang pernah ada dan dialami seseorang, yang kadang sulit untuk dilupakan,
sekalipun sudah berdamai dengan keadaan di masa lampau itu. Berusaha
mengenyahkan pun, meski ujung-ujungnya tetap akan mengingat dengan jelas
kejadian tersebut. Tergantung bagaimana diri sendiri dalam menyikapinya. Ingin
membiarkannya mengalir seperti air, ataupun dengan memeluknya.
Novel
yang mengkisahkan tentang perjalanan Zaman Zulkarnaen dalam menguak sisi kehidupan
Sri Ningsih selama hidupnya ini mengandung sebuah ibrah akan kesabaran,
ketulusan, keikhlasan, dan cara memeluk rasa sakit di masalalu yang dialami
oleh tokoh utama yakni Sri Ningsih yang dikemas dengan amat apik oleh pengarang
ini.
Seorang
wanita berumur 70 tahun meninggal di sebuah panti jompo dekat menara Eifel,
Paris dengan meninggalkan sebuah surat keterangan yang dikirim oleh pihak
ketiga pada sebuah firma hukum bernama Thomas & co. Dalam keterangan
tersebut dijelaskan bahwasanya wanita tua itu adalah pemilih sah atas 1% saham
di perusahaan besar.
Zaman
Zulkarnaen, salah seorang junior associate yang pernah magang selama
setahun di firma hukum tersebut tidak menyangka jika dia terpilih untuk
menyelesaikan surat keterangan dari pihak ketiga wanita tua itu, juga mencari
siapakah ahli waris atas saham sah 1% milik wanita yang dikenali namanya sebagai
Sri Ningsih, salah seorang perempuan Jawa tulen asal
Indonesia.
“Harta itu bisa memicu pertikaian, bahkan dalam kasus serius, peperangan skala kecil,” – hal. 20
Berkat
bantuan dari petugas panti jompo – Aimée – yang memberikan sebuah buku diary
kecil yang telah diamanahkan Sri Ningsih sebelum dia meninggal. Zaman pun
akhirnya mulai menelusuri perjalanan hidup almarhum Sri Ningsih sehingga dia
bisa sampai ke Paris, dan memiliki warisan yang jumlahnya bisa mengalahkan
kekayaan Ratu Inggris.
Lewat
lima juz dalam buku diary kecil itu, Zaman mengarungi perjalanan melalui
Tiga Negara (Paris, London, Indonesia(Sumbawa-
Pulau Bungin)) dan dua kota (Surakarta, Jakarta)
dengan pelajaran hidup yang berbeda-beda.
Ketika
melakukan perjalanan ke Pulau Bungin, Zaman menemui saksi hidup semasa kecil
Sri Ningsih yakni Pak Tua yang bernama asli Ode. Sri Ningsih adalah putri
nelayan tangguh bernama Nugroho dan Rahayu. Tapi sayangnya, Rahayu – ibunya –
meninggal saat setelah melahirkan Sri. Sedangkan ayahnya, meninggalkannya
bersama ibu tirinya – Nusi Marutta – dan adik tirinya – Tilamutta – saat Sri
Ningsih berumur 9 tahun.
“Selama bapak pergi, hormati dan patuhi ibumu. Lakukan apa yang dia suruh tanpa bertanya. Turuti apa yang dia perintahkan tanpa membantah. Jangan mudah menangis, jangan suka mengeluh. Kamu adalah anak seorang pelaut tangguh. Bersabarlah dalam setiap perkara. – hal 95
Sepeninggal
ayahnya, Sri Ningsih menjadi bulan-bulanan ibu tirinya. Namun, dia tidak berani
untuk
membantah setiap apa perkara yang diminta atau diperintah
oleh Nusi Marutta.
Dari Pulau Bungin, Zaman melanjutkan perjalanannya ke
Surakarta yakni ke tempat Madrasah Kiai Ma’shum yang saat itu telah diteruskan
oleh Kiai Wahid, salah seorang putra dari Nur’aini – sahabat terbaik Sri
Ningsih. Selama berada di tempat Kiai Ma’shum bersama Tilamuta – adik tirinya,
Sri Ningsih juga memiliki sahabat lain bernama Sulastri. Persahabatan tiga
perempuan tersebut amat kuat. Tapi sayangnya, ada kebencian, kedengkian, juga
kecemburuan yang membuat retak hubungan ketiga sahabat tersebut. Hingga akhirnya
terjadi sebuah tragedi yang amat membuat Sri Ningsih begitu trauma dengan
masalalunya tersebut.
“Aku ingin sekali punya hati sebaikmu, Sri. Tidak pernah punya prasangka buruk walau sebesar debu,” – hal 179
Hari itu, di tahun 1965. Rasa dengki telah menjadi kebencian luar biasa, yang bahkan bisa membuat pelakukannya membabi buta – hal 191
Perjalanan Zaman pun dilanjutkan kembali ke kota Jakarta.
Melalui beberapa lembar surat yang diberi Nur’aini sebagai petunjuk tempat
terakhir keberadaan Sri Ningsih, akhirnya Zaman bisa bertemu saksi hidup Sri
Ningsih selama dia berada di Jakarta. Cathy namanya.
Di Jakarta, Sri Ningsih belajar untuk bertahan hidup,
membangun usahanya dari nol, walaupun ada banyak rintangan yang dialaminya
hingga dia harus jatuh bangun dan tertatih-tatih untuk sebuah keberhasilan itu.
Tapi sayangnya, semangat pantang menyerah, etos kerja, serta tidak pernah putus
asa dalam setiap kegagalan, membawanya menemukan titik kesuksesan yang dia
harapkan.
Aku
tahu sekarang, pertanyaan terpenting bukan berapa kali kita gagal, melainkan
berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita
gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x – hal 210
Selama 12 tahun berada di Jakarta, Sri Ningsih tiba-tiba
menghilang begitu saja, padahal usahanya
sedang berada di puncaknya. Kemudian, Zaman pun melanjutkan investigasinya
dengan kembali ke London berdasarkan juz berikutnya yang mana berkisah tentang
cinta yang dialami Sri Ningsih.
Aku tidak akan menangis karena sesuatu itu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian – hal 286
Di London, Sri Ningsih bertemu dengan kekasih hatinya
yakni Hakan, juga menemukan keluarga angkatnya seperti Aami, Aabu, Amrita dan
lainnya yang memberikan dia kehangatan akan sebuah keluarga. Namun, selama 19
tahun berada di London, lagi-lagi Sri Ningsih kembali menghilang dan kabur ke
Paris, yang tak lain tujuannya adalah panti jompo dekat dengan menara Eifel.
Begitu petunjuk mengenai ahli waris dari surat wasiat
yang dibuat oleh Sri Ningsih amat sangat dekat dan jelas, seseorang bernama Ningrum
yang mengaku sebagai mertua dari Tilamuta, yang telah menikah dengan putrinya
yang bernama Murni datang kehadapan Zaman.
Lantas Zaman amat tak percaya perihal ucapan Ningrum
tersebut. Bukankah Tilamuta telah meninggal saat tragedi yang terjadi di
Madrasah Kiai Ma’shum? Tapi, kenapa ada perempuan yang mengatakan jika Tilamuta
masih hidup dan telah menikah? Akankah pernyataan Ningrum itu benar, kemudian,
seperti bagaimanakah sikap Zaman dalam mengatasi kondisi yang demikian?
Temukan kelanjutan kisah Sri Ningsih lebih lengkapnya dalam
novel Tentang Kamu ini.
-0-
Pengarang yang mana karyanya tidak pernah mangkir dari
rak Best Seller ini kembali menelurkan sebuah karyanya lagi dengan tema dan
jalan cerita yang lebih baru lagi. Kepiawaian Tere Liye dalam menyampaikan
cerita di novelnya ini amat berkesan, tentunya dengan tema yang belum pernah
diusung sebelumnya oleh pengarang lainnya.
Selain itu, saya berpikir kepandaiannya dalam melakukan
riset untuk sebuah karya tulisnya ini begitu ciamik. Seperti mengenai hukum
warisan, antara perusahaan dan tentang saham, yang disajikan dengan amat apik
oleh Tere Liye. Pantas saja jika akhirnya pengarang yang amat produktif ini
mendapatkan penghargaan dari Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI). Karena sudah
tidak diragukan lagi kelihaian dari seorang akuntan ini dalam mengolah kata,
tema, sehingga tercipta sebuah karya tulis yang indah sepanjang cerita.
Selanjutnya, saya akan sebutkan terlebih dahulu beberapa
kejanggalan yang saya temukan saat membaca Novel Tentang Kamu ini.
Pertama, pada halaman 107
dijelaskan jika usia Sri Ningsih 14 tahun, kemudian pada halaman 124, juga disebutkan bahwasanya usia Sri Ningsiih
adalah 15 tahun, sedangkan di halaman 129 tertulis jika dia berusia 14 tahun,
masih juga di halaman 133 disebutkan jika Usia sri Ningsih 14 tahun. Padahal kejadian
itu terjadi dalam waktu yang sama, tapi kenapa selisih usia Sri Ningsih
berbeda. Sehingga terasa janggal.
“.... Menyisakan gadis kecil yang sekarang sudah berusia
empat belas tahun,” – hal. 107
“Gadis usia lima belas tahun itu tampak mengenaskan. Tubuhnya lemah, bibirnya
pucat, bicaranya antara terdengar atau tidak.” – hal. 124
“... gadis usia empat belas tahun itu duduk di samping pusara
ibunya. Pemakaman kampung seberang” – hal 129
“Gadis usia empat belas tahun itu tidak perlu berpikir
dua kali, seperti banteng terluka dia lari menuju anak tangga.” – hal 133
Kedua, kejanggalan dengan penyebutan tokoh Zaman menjadi Eric pada halaman 207. Padahal
jika diurutkan dari percakapannya, seharusnya yang menyatakan kalimat tersebut
diucapkan Eric kepada Zaman, bukan sebaliknya.
“Iya, tambahkan satu lagi, Eric....” – Zaman
“SPV? Ini bukan penyelidikan pajak, Eric.”
Ketiga, kejanggalan mengenai apakah Sri berhijab. Saya rasa,
kejanggalan ini sudah saya temukan setelah saat Sri Ningsih berada di Jakarta
(lihat hal. 127) yang mengenakan baju pendek saat pembangunan Monas. Namun demikian,
tidak ada penjelasan langsung yang berkaitan dengan Sri Ningsih memakai hijab
atau tidak. Karena, sebelumnya Sri juga pernah mengenyam pendidikan di Madrasah
Kiai Ma’shum dan juga pernah mengabdi menjadi seorang guru di sana.
Mungkin hanya itulah sedikit kejanggalan yang penuh tanda
tanya bagi saya. Namun demikian, masih ada beberapa hal lain, hal-hal pokok
yang tentunya amat sangat saya apresiasi dengan ide cerita yang dibawakan oleh
Tere Liye ini. Salahsatu keunggulan yang menjadi poin menariknya ini merupakan
bagian dari unsur intrinsik dari novel Tentang Kamu ini, adalah sebagai
berikut:
Pertama : Tema
Dalam novel ini memiliki tema berdasarkan lima juz dari
diary kecil milik Sri Ningsih sendiri. Diantaranya adalah; kesabaran, persahabatan,
keteguhan hati, cinta, dan tentang memeluk semua rasa sakit. Namun demikian,
keseluruhan novel ini memiliki satu tema besar yang mengarah dalam hal “memeluk
rasa sakit”.
Awalnya saya menduga novel ini adalah sebuah novel cinta,
karena terpikat dengan judulnya “Tentang Kamu”. Namun ternyata tentang kamu
merupakan salahsatu tema dalam novel
Tere ini.
Kedua : Latar cerita atau setting
Pada latar tempat dalam novel ini amatlah kuat dengan dijelaskan
secara konkret oleh Tere Liye. Sehingga saat tokoh beradi di tempat-tempat
seperti di Pulau Bungin, Surakarta, Jakarta, London, Paris. Pembaca bisa lebih
mudah mengetahuinya. Selain itu juga, Tere juga masih menyisipka beberapa latar
tempat yang “netral” yang tak bernama. Sehingga pembaca digiring untuk
mempersepsikan dimanakah letak tempat cerita itu berlangsung.
Hal itulah yang membuat saya kagum dengan Tere Liye yang
pintar dalam mengolah penyebutan latar tempat.
Ketiga : Karakter
Dalam Novel Tere Liye Tentang Kamu ini, dia menggabungkan dua jenis
karakter untuk penokohannya. Baik itu karakter yang sudah dijelaskan secara
langsung oleh pengarang, serta karakter tokoh yang mana bisa dipahami oleh
pembaca melalui penjelasan secara tidak langsung yang digambarkan melalui
aktifitas, percakapan, tindakan, maupun pikiran sang tokoh dalam setiap
peristiwa. Sehingga, pembaca lebih mudah dalam menafsirkan karakter tiap tokoh.
Sudah menjadi ciri khas Tere yang menyertakan latar
belakang tokoh baik itu utama ataupun pendukung. Yang sama-sama punya andil
besar dalam berjalannya seluruh cerita. Seperti halnya tokoh pembantu seperti La
Golo yang apabila dihilangkan begitu saja, pasti akan terasa hambar dengan
tidak ada celetukan konyol yang bersumber darinya saat Zaman berada di Pulau
Bungin yang mewawancarai Pak Ode. Selain itu, ada tokoh Rajendra Khan, meski
menjadi tokoh pembantu, pembantu amat bisa menafsikan seperti apakah
karakternya yang suka usil, dan jahil itu. Masih ada juga karakter pendukung
lainnya seperti Kang Sueb, Deschamps, Pak Anwar, Lucy, Eddy, Amrita, Sir
Thomson yang sibuk dengan urusan bersama cucunya, Eric, Encik Razak, kehebohan
Maximillen, Beatrice dan masih banyak lagi tentunya.
Selain itu, masih ada karaker tokoh yang dihadirkan
langsung oleh Tere untuk mengungkap perjalanan Sri Ningsih selama di Madrasah
Kiai Ma’shum, seperti Nur’aini yang tak pernah terpikirkan akan hadir di
tengah-tengah Zaman dan juga Kiai Wahid. Masih ada juga tokoh yang tiba-tiba
hadir seperti Hans Zulkarnaen, yang merupakan kakak tiri Zaman.
Selanjutnya, tidak ada kata bosan membicarakan tokoh
utama seperti Sri Ningsih, dengan ketabahan, kebesaran hatinya, yang mampu
membuat saya menitikkan air mata. Tak sanggup rasanya jika menjadi Sri Ningsih
yang pernah mendapatkan predikat sebagai seorang “Anak yang dikutuk”. Apalagi
tentang bagaimana dia memeluk rasa sakit, serta masa lalu yang dialaminya,
pastilah bisa menjadi pemicu pembaca untuk dapat memetik pelajaran atas sikap
sosoknya yang sudah ditakdirkan meninggal oleh Tere Liye.
Selain itu, saya juga amat kagum dengan sosok seorang
Zaman Zulkarnaen yang mana dia amat pandai dalam mengolah hipotesa. Serta amat
kesal dan membenci dengan karakter yang diciptakan Tere pada diri Musoh dan
Sulastri.
Keempat : Plot
Jalan cerita yang amat saya sukai dalam novel Tere ini
adalah dengan menggunakan plot berjenis Alur Maju Mundur yang konsisten
sepanjang cerita. Sehingga bisa terlihat berpadu padan dalam keterkaitan antara
latar, konflik, klimaks, peristiwa, serta karakter para tokoh yang saling
terjaga erat.
Kelima : Poin Of View
Sudut pandang yang dipakai Tere dalam novel ini menggunakan
kata ganti orang ketiga, sehingga sangat memudahkan pembaca dalam mencermati
lajunya cerita.
Keenam : Cover
Nah, saya amat suka dengan desain minimalis yang
sederhana pada objek sepatu yang lusuh untuk cover novel tentang kamu ini. Sebagai
gambaran, menurut saya, objek sepatu ini mendandakan sebagai sebuah perjalanan
yang dilalui Sri Ningsih sehingga dia mampu berkeliling dunia, hingga ia sampai
ke beberapa negara seperti London, Paris, Mesir, India, dan lain-lain.
Selain itu, saya juga menebak jika sepatu itu
menggambarkan akan sebuah petuah yang akhirnya diucapkan oleh ayah Sri Ningsih
yaitu Nugroho sebelum dia pergi ke Surabaya untuk bisnis serta membelikan
sebuah sepatu sebagai hadiah ulang tahun Sri. Tapi sayangnya, dari hadiah yang
akan ayahnya berikan tersebut, membuat Sri mendapatkan julukan “Anak yang
dikutuk” oleh Ibu Tirinya.
Selain itu, saya juga suka dengan pilihan warna cover
yang merupakan kombinasi dari oranye, coklat, dan sepertinya putih, yang
tentunya bakalan membuat penasaran para pembaca. Hehehehe....
Ketujuh: Amanat atau Hikmah
Salahsatu kekaguman saya dalam novel-novel Tere Liye
adalah melalui ibrah, atau hikmah yang bisa dibawa pembaca setelah membaca
novelnya. Apalagi dalam novel Tentang Kamu ini, bertebaran aneka hikmah yang
bisa diambil. Seperti berusaha bangkit dari keterpurukan, berdamai dengan
masalalu, memeluk rasa sakit, berusaha semaksimal mungkin untuk sebuah
kesuksesan, jangan mudah menyerah, betapa pentingnya akan pendidikan dan
beberapa hikmah lainnya.
‘… jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu.
Jadilah seperti air yang mengalir sabar.
Jangan pernah takut memulai hal baru…” – hal 278
Selain itu, ada juga ilmu yang bisa diambil dan menjadi
pelajaran setelah membaca Novel ini. Seperti adanya, hari Rememberance Day yang
ada di Kota London, terjadinya sistem penanda komputer yang terkenal dengan Y2K
atau millenium Bug pada tahun 2000, meletusnya tragedi Malari –
Malapetakan 15 Januari, dan juga tragedi adanya pembantaian yang dilakukan
kelompok PKI (Partai Komunis Indonesia).
Masih ada juga beberapa sindiran halus Tere tentang
adanya kekerasan pada anak, tehnik bekerja dan ingin memekerjakan. Yaitu seperti
yang dicontohkan Sri Ningsih yang mana trauma dengan kejadian bisnis travel
yang dialaminya, akhirnya memutuskan kembali untuk memulai dari nol dengan
menjadi seorang karyawan. Selanjutnya, setelah ada waktu yang pas, dia keluar
dari perusahaan tempatnya bekerja, dan membuat sebuah rintisan perusahaan yang
bergerak dalam bidang yang sama dengan perusahaan tempat bekerja sebelumya yakni
produk toiletris namun dengan gubahan kekreatifitasan Sri Ningsih sendiri. Hingga
akhirnya dia mampu mempekerjakan banyak karyawan di perusahaan miliknya
tersebut.
Sindiran halus juga terjadi masalah pembagian warisan,
mengenai kehidupan modern dengan adanya gadget, tentang perempuan usia dua
puluh lima tahun yang belum menikah, dan beberapa sindiran lainnya.
Seperti yang terangkum dalam rangkaian kalimat di bawah
ini.
“Harta itu bisa memicu pertikaian, bahkan dalam kasus serius, peperangan skala kecil,” – hal. 20
“Masalah harta waris tanpa klaim ini seperti gunung es, hanya atasnya saja yang terlihat, di bawahnya tersembunyi. Itu melibatkan uang yang tidak sedikit, dan mengundang banyak lalat mendekat,” – hal 21
“Ah, istri-istri zaman sekarang, mereka kadang lebih sibuk dibanding suaminya,” – hal 29
“Ada banyak hal-hal hebat yang tampil sederhana. Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya,” – hal 257
Tapi, dari keunggulan-keunggulan tersebut, saya menemukan
satu typo, yah... satu typo untuk tulisan dengan lembar 524 ini bisa dikatakan
amatlah sempurna untuk typonya. Seperti dalam kalimat di bawah ini.
“Ayo, apa susanya menelepon, tanyakan lewat
sekretarisnya.” – hal 267
Yah, hanya kurang huruf “h” aja kog. Sehingga Novel ini
amatlah sangat recomended sekali untuk dibaca bagi teman-teman semua.
Ending yang dikemas sedemikian rupa sebenarnya bisa ditebak
dari pertengahan cerita, namun sayangnya Tere Liye menyuguhkan hal-hal yang
diluar dugaan saya begitu bagian ending
itu berlangsung. Sebuah hipotesa yang membuat saya melongo dan berdecak kagum
dengan sosok bernama Zaman dalam mengungkapkan hal-hal yang tak pernah diduga
sebelumnya.
Lepas daripada itu, Novel ini begitu banyak mengajarkan dengan
arti kehidupan dengan sosok Sri Ningsih yang melakukan perjalanan mengelilingi
dunia yang amat menginspirasi untuk selalu bersabar, tabah, dan ikhlas dalam
menghadapi ujian apapun, bangkit disaat terpuruk, menjaga baik hubungan
persahabatan yang telah terjalin, berdamai dengan masalalu dengan cara
memeluknya, serta menjaga hati yang telah dijaga sebaik mungkin.
“Ada cara terbaik untuk menerima takdir kejam itu, dengan memeluknya. Seperti yang kamu lakukan,” – hal 136
Kadangkala ada banyak masalalu yang tidak ingin ditengok kembali. Tapi dalam kehidupan, masa sekarang dan masa depan jauh lebih penting, karena masa lalu, sehebat apapun itu telah tertinggal di belakang. – hal 377
Khoirur Rohmah, 31 Desember 2016
wow amazing, lengkap isi resensinya. cieeee good job. pnasaran sama novelnya.. pinjem dooong í ½í¸
BalasHapusTerima kaish banyak, mas. hhee
HapusTestimoni kedua bikin resensi. hhheee
Iyaa, boleh2 pinjem kok. wkwkwk
baca ini, jadi berasa udah baca buiunya. trims ya
BalasHapusAlhamdulilllah...
Hapuslebih-lebih baca bukunya langsung mbak Milda. ada banyak kejutan loh di dalamnya hhee
Betul..harta bisa memicu.pertikaian
BalasHapusSetuju banget mbak....
Hapusklo bahas masalah harta, banyak lalat yang mendekat hhee
wah saya baca ceritanya kopi lima gelas habis tidak terasa,,,,
BalasHapusWih... saking asyiknya atau gima nih, pak.. hhhee
HapusSelamat menikmati resensinya ya Pak... :D
Wow.. lengkap.. mantab mb..
BalasHapusTerima kasiihh, Mbak Zie... hhehee
Hapuskreeeen lengkap bangeet resensinya..saya udah punya bukunya tapi belum baca..hiks..
BalasHapusTerima kaish banyak Mbak Lingga...
HapusHayuk baca segera eksekusi mbak. Ada banyak puzzle2 smaa kejutan2 di novelnya loh hhee
Resensinya lengkap banget, keren Rohmah. Buku-buku Tere Liye, memang selalu inspiring. ^_^
BalasHapusTerima ksih bnyak Mbak Ratna...
HapusPunyae smean juga keren loh resensinyaa hhee
Banget inspiringnya mbak hhee
mendetail sangat resensi dari buku ini, cukup melelahkan jadinya membacanya, tapi dengan begtu hari ini saya berencana mencari buku tersebut diatas, moga nemu yeah
BalasHapusAmin ya robbal alamin...
HapusSmoga segera ketemu buku "Tentang Kamu" ini ya Pak.
Bisa juga via online sama offline kok utk daptinnyaa hhhee :D
Waaa baca resensinya jadi bikin penasaran mba.. apalagi ada lompatan setting waktu dan lokasinyam sepertinya bakal penuh dengan nuansa baru ya. Hmmmm bisa masuk waiting list ini bukunya
BalasHapusHHe... iya mbak. Dan penuturannya amat detail. Seakan2 kita ikutan melompat dri satu tempat ke tempat lain, hehehee
HapusMonggo Mbak Ira, smoga bisa dieksekusi ya.. hheee
Baru aja selesai baca buku ini. Aku jg awalnya ngira ini novel roman cinta2an gitu ternyata salah tapi aku tetep sukaaaakkkk
BalasHapusWehh... samaan berarti Mbak Muna...
HapusStuju.. aku juga sukak sama Novel ini mbak :D
Sepertinya menarik nih, jadi pengen baca karya Tere Liye yang ini :D
BalasHapusHhee.. Banget Mbak Nia...
HapusMonggo hunting Novel Tentang Kamu nya :D
waduh sudah dikasih spoiler duluan sama rohma, ini bukunya ada di rumah, tapi lagi dibaca pak suami dulu
BalasHapusMbak Evrina wajib baca novel ini -duh.. maksa_ huehehe...
HapusBair tambah penasaran hhe
Asli, bagus ini cerita Novelnya mbak...
Smoga stlah Pak suami baca, Mbak evrina juga bisa ikutan nyimak kisahnya Sri Ningsih ya mbak. hhee
Aku uda beli online hahaha ga sabar pengenn baca :)
BalasHapusWih... hayuk dibaca mbak...
HapusBanyak kejutan di dalamnya loh hheee
Aih, jadi pengen baca gara2 liat review ini
BalasHapusWihh... Hayuk borong buku Tentang Kamunya, mbak...
HapusBakalan bikin baper pas cerita ttg kisah Sri dan Hakan loh.. hhee
Lengkap detilnya bahkan kamu pun ngeh soal usia tokoh, mungkin itu salah ketik soal usia hehe
BalasHapushuehheee... Iya, Koh...
HapusSepertinya salah ketik aja deh hheee
Halo mba. Asyik nih kalau ada buku yang bisa menjabarkan seolah-olah kita berada di tempat itu :)
BalasHapusLengkapppppp....
BalasHapusSaya juga sudah baca mbak, dan juga barusan posting tentang Tere Liye, tapi tidak sedetail ini :')
Suka banget sama buku satu ini, jalan ceritanya khas Tere Liye banget ya mbak...
Yuk mbak mampir ke blog saya :)
Ini buku jadi bikin berecamuk yaaa, tetang perjuangan dan warisan
BalasHapusreview yang lengkap rohma, dan dalem sekali, banyak kalimat inspiratif
BalasHapusTere Liye memang selalu menjadi penulis favorit saya. Lewat novel yang berjudul tentang kamu ini, kita disuguhkan oleh kisah hidup ningsih yang menurut saya penuh perjuangan, kisah tragis dan sedih, yang mana sangat layak untuk dijadikan sebagai tauladan. Aku suka banget sama novel ini, huhuhuh
BalasHapus